Kasus 4 “Vertigo”

Kasus4

Klien Tn. V (40 th) datang ke RS. Pengkajian yang diklakukan Ners Ana menemukan adanya: dizziness terutama saat bergerak, nistagmus, unstable, klien memiliki riwayat psikiatrik depresi disertai halusinasi neurosa cemas, dan fobia. Menurut keluarganya klien pernah mengalamimi insomnia dan bangun di pagi hari dengan disertai nyeri kepala hebat.

PEMBAHASAN

  1. 1. Pengertian beberapa istilah:
  • Nistagmus: tampak bola mata bergerak tidak terarur dengan komponen cepat dan lambat, dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, di luar kehendak (involuntary).
  • Neurosa cemas: Cemas yang berlebihan.
  • Unstable: tidak stabil/kehilangan keseimbangan.
  • Dizziness (kepeningan) : Perasaan ketidakseimbangan (disequilibrium), sensasi dari ketidakseimbangan (sensory disorientation), tidak disebabkan oleh penyakit telinga dalam.
  1. 2. Konsep penyakit

DEFINISI

Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan. Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau seolah-olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan mual dan kehilangan keseimbangan.

Vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari.

Penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali.

Benign Paroxysmal Positional Vertigo.

Benign Paroxysmal Positional Vertigo merupakan penyakit yang sering ditemukan, dimana vertigo terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 1 menit.

Perubahan posisi kepala (biasanya terjadi ketika penderita berbaring, bangun, berguling diatas tempat tidur atau menoleh ke belakang) biasanya memicu terjadinya episode vertigo ini.

Penyakit ini tampaknya disebabkan oleh adanya endapan kalsium di dalam salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam.

Vertigo jenis ini mengerikan, tetapi tidak berbahaya dan biasanya menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan.

Tidak disertai hilangnya pendengaran maupun telinga berdenging.

KLASIFIKASI

Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2):

  1. Vertigo paroksismaL

Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan.

Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :

  1. Yang disertai keluhan telinga ; termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
  2. Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
  3. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah :
  • Vertigo posisional paroksismal laten,
  • Vertigo posisional paroksismal benigna
  1. Vertigo kronis

Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa serangan akut, dibedakan menjadi:

  1. Yang disertai keluhan telinga :

Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.

  1. Tanpa keluhan telinga :

Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.

  1. Vertigo yang dipengaruhi posisi :
  • Hipotensi ortostatik
  • Vertigo servikalis
  1. Vertigo yang serangannya mendadak/akut, berangsur-angsur mereda, dibedakan menjadi :
    1. Disertai keluhan telinga :

Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.

  1. Tanpa keluhan telinga :

Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.

Ada pula yang membagi vertigo menjadi(2):

1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.

2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.

PENYEBAB

Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam.

Organ ini memiliki saraf yang berhubungan dengan area tertentu di otak.

Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telingan dengan otak dan di dalam otaknya sendiri.

Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba.

Penyebab umum dari vertigo:

  • Keadaan lingkungan

ü      Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)

ü      Obat-obatan

ü      Alkohol

ü      Gentamisin

  • Kelainan sirkulasi

ü      Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral dan arteri basiler

  • Kelainan di telinga

ü      Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)

ü      Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri

ü      Herpes zoster

ü      Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)

ü      Peradangan saraf vestibuler

ü      Penyakit Meniere

  • Kelainan neurologis

ü      Sklerosis multipel

ü      Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin, persarafannya atau keduanya

ü      Tumor otak

ü      Tumor yang menekan saraf vestibularis.

Menurut (Burton, 1990 : 170) yaitu :

a) Lesi vestibular

  • Fisiologik
  • Labirinitis
  • Menière
  • Obat ; misalnya quinine, salisilat.
  • Otitis media
  • “Motion sickness”
  • “Benign post-traumatic positional vertigo”

b) Lesi saraf vestibularis

  • Neuroma akustik
  • Obat ; misalnya streptomycin
  • Neuronitis vestibular

c) Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal

  • Infark atau perdarahan pons
  • Insufisiensi vertebro-basilar
  • Migraine arteri basilaris
  • Sklerosi diseminata
  • Tumor
  • Siringobulbia
  • Epilepsy lobus temporal

Menurut(http://www.kalbefarma.com)

1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :

  • Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
  • Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan perdarahan.
  • Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
  • Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
  • Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.

2. Penyakit SSP :

  • Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok jantung.
  • Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
  • Trauma kepala/ labirin.
  • Tumor.
  • Migren.
  • Epilepsi.

3. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.

4. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.

5. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.

6. Intoksikasi.

GEJALA

  • Penderita merasa seolah-olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita merasakan seolah-olah benda di sekitarnya bergerak atau berputar.
  • Adanya nistagmus, dizziness (kepeningan )
  • Kelainan Sistem Saraf Otonom : pucat, peluh dingin, mual, muntah.
  • Berjalan sempoyongan seperti membelok, berdiri dan duduk tidak dapat tegak.
  • Kepala berat, nafsu makan berkurang, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, nyeri kepala, penglihatan kabur, tinnitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, lidah merah dengan selaput tipis.
  1. 3. Patofisiologi vertigo (terlampir)

  1. PENGKAJIAN+NCP+NUTRISI

PENGKAJIAN:

  1. a. Biodata

–         Nama: Tn. V

–         Umur : 40 tahun

  1. b. Anamnesa

1)      Keluhan utama

P: dizziness/pusing dirasakan terutama saat bergerak. Kaji lebih lanjut: kapan nyeri mulai dirasakan? Tindakan apa yang dapat dilakukan klien untuk mengurangi nyeri telinga klien? Tindakan apa yang dapat memperberat nyeri?

Q: kaji lebih lanjut: seperti apa nyeri yang dirasakan?apakah seperti ditusuk jarum?seperti diremas-remas?seperti dipukul palu?apakah berlangsung terus menerus atau intermitten? Pada pasien vertigo, biasanya rasa nyeri kepala/pusing yang dirasa adalah seperti sensasi berputar-putar, bisa berupa perasaan dirinya yang berputar (vertigo subjektif) atau lingkungannya yang berputar (vertigo objektif).

R: kaji lebih lanjut :dimana lokasi nyeri?apakah nyeri menyebar?apakah menggangu aktivitas? Pada pasien vertigo, biasanya nyeri yang dirasa adalah daerah kepala.

S: kaji lebih lanjut: berapa skala nyeri?

T: menurut keluarga klien, nyeri hebat akan terasa ketika bangun pagi jika mengalami insomnia pada malam harinya

2)      Riwayat kesehatan

v      Riwayat kesehatan sekarang

Dizziness (terutama saat bergerak), nistagmus, unstable. Klien memiliki riwayat psikiatrik depresi disertai halusinasi, neurosa cemas, dan fobia.

v      Riwayat kesehatan masa lalu

Klien pernah mengalami insomnia, dan bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala hebat.

v      Psiko-sosial

Klien mengalami depresi disertai halusinasi, neurosa cemas, dan fobia.

  1. c. Pemeriksaan fisik

Hasil pemeriksaan fisik: adanya dizziness terutama saat bergerak, nistagmus, unstable.

Pemeriksaan fisik lebih lanjut dapat dilakukan dengan cara:

v      Gerakan mata. Gerakan mata yang abnormal menunjukkan adanya kelainan fungsi di telinga bagian dalam atau saraf yang menghubungkannya dengan otak.

Nistagmus adalah gerakan mata yang cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah.

Arah dari gerakan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba-tiba atau dengan meneteskan air dingin ke dalam telinga.

v      Untuk menguji keseimbangan, penderita diminta berdiri dan kemudian berjalan dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup.

  1. d. Pemeriksaan diagnostic

Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik; tekanan darah diukur dalam posisi berbaring,duduk dan berdiri; bising karotis, irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa.
Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: Fungsi vestibuler/serebeler:
a. Uji Romberg : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.
b. Tandem Gait : penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti.
Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang, dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.
c. Uji Unterberger. :Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.

d. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)
Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup.
Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.
e. Uji Babinsky-Weil
Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit; jika ada gangguan vestibuler unilateral, pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.

Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis
Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer.
a. Uji Dix Hallpike
Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaring-kan ke belakang dengan cepat, sehingga kepalanya meng-gantung 45º di bawah garis horisontal, kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral.
Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit, akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue).
Sentral: tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo ber-langsung lebih dari 1 menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue).
b. Tes Kalori
Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º, sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik).
Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinsga, baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin, sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.
Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. VIII, sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.
c. Elektronistagmogram
Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus, dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif.

Test pendengaran :

Test ini penting dalam menegakkan diagnosis lesi perifer. Vertigo yang disertai dengan kekurangan pendengaran biasanya disebabkan oleh lesi perifer, dan test yang dapat dilakukan ialah : (i) voice test/suara berbisik, (ii) test garputala : Rinne, Weber, Schwabach, (iii) audiometri : audiogram sangat penting untuk menegakkan diagnosis kelainan perifer.

  1. e. Pengkajian lebih lanjut

a. Aktivitas / Istirahat

  • Letih, lemah, malaise
  • Keterbatasan gerak
  • Ketegangan mata, kesulitan membaca
  • Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala
  • Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.

b. Sirkulasi

  • Riwayat hypertensi
  • Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
  • Pucat, wajah tampak kemerahan.

c. Integritas Ego

  • Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
  • Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
  • Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
  • Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)

d. Makanan dan cairan

  • Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).
  • Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
  • Penurunan berat badan

e. Neurosensoris

  • Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
  • Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
  • Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
  • Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
  • Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
  • Perubahan pada pola bicara/pola pikir
  • Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
  • Penurunan refleks tendon dalam
  • Papiledema.

f. Nyeri/ kenyamanan

  • Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
  • Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah
  • Fokus menyempit
  • Fokus pada diri sndiri
  • Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
  • Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.

g. Keamanan

  • Riwayat alergi atau reaksi alergi
  • Demam (sakit kepala)
  • Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
  • Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)

h. Interaksi sosial

  • Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit.

NCP / ASUHAN KEPERAWATAN

No.

Diagnosa

Tujuan

Intervensi

Rasional

1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan stress dan ketegangan, peningkatan intrakranial . Nyeri hilang atau berkurang Mandiri:

1)      Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri

2)      Anjurkan klien istirahat ditempat tidur

3)      Atur posisi pasien senyaman mungkin

4)      Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

Kolaborasi :

1). Kolaborasi untuk pemberian analgetik.

  1. Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
  2. Pasien dengan vertigo terkadang merasakan pusing berkurang ketika tidur.
  3. Posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
  1. Relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman

1. Analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.

2. Koping individual tak efektif berhubungan dengan metode koping tidak adekuat. Koping individu menjadi lebih adekuat Mandiri :

1)      Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum.

2)      Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.

3)      Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.

4)      Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan.

  1. Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan
  2. klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih tenang
  3. agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.
  4. membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.
3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan informasi mengenal penyakitnya. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan. Mandiri :

1)      Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.

2)      Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.

3)      Diskusikan penyebab individual dari sakit kepala bila diketahui.

4)      Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.

5)      Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal

6)      Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan

  1. Megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
  2. Dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
  3. Untuk mengurangi kecemasan klien serta menambah pengetahuan klien tetang penyakitnya.
  4. Mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
  5. Agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.
  6. Dengan memperhatikan faktor yang berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.

  1. 5. FARMAKOLOGI

Pengobatan tergantung kepada penyebabnya.

Obat untuk mengurangi vertigo yang ringan adalah meklizin, dimenhidrinat, perfenazin dan skopolamin.

Skopolamin”>

Skopolamin terutama berfungsi untuk mencegah motion sickness, yang terdapat dalam bentuk plester kulit dengan lama kerja selama beberapa hari. Semua obat di atas bisa menyebabkan kantuk, terutama pada usia lanjut. Skopolamin dalam bentuk plester menimbulkan efek kantuk yang paling sedikit.

  1. 6. PERAN PERAWAT (ASPEK LEGAL DAN ETIK)
  • Autonomi : maksudnya adalah memberikan pilihan yang terbaik untuk pain tanpa harus memaksakan kehendak kita. Segala keputusan ada di pihak pasien. Perawat hanya menjelaskan baik dan buruk untuk pasien.
  • Nonmaleficience : Menghindari segala bahaya yang nantinya akan terjadi  kepada pasien.
  • Keadilan  : Perawat harus memperlakukan pasien dengan adil tanpa melihat pangkat atau jabatan dari si pasien. Semua pasen diperlakukan sama.
  • Kesetiaan : Memegang janji maksudnya menjaga kerahasiaan pasien.
  • Kerahasiaan : Menghormati informasi tertentu maksudnya perawat memberikan setiap informasi untuk pasien. Namun jika informasi itu ada yang harus dirahasiakan perawat harus mampu menyimpan informasi itu sebaik mungkin.
  • Tanggung jawab : Perawat harus mampu melaksanaan tugas yang diberikan sebaik mungkin.
  • Tanggung gugat : Selain tanggung jawab perawat juga memiliki rasa tanggung gugat maksudnya perawat harus mampu memberikan alasan atas tindakan yang ia lakukan ketika nanti jika ada pasien yang merasa bahwa tindakan perawat itu masih jauh dari maksimal.
  • Inform consent : Meminta persetujuan dari pasien ketika perawat akan melakukan setiap tindakan. Perawat juga harus mampu memberikan resiko potensial, keuntungan , alternatif dan keburukan yang akan terjadi kepada pasien. Serta perawat juga harus memberikan kebebasan untuk memilih kepada pasien.

~ oleh kelompok8fkep pada Oktober 12, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: