Kasus 2 “Konjungtivitis”

KASUS 2

Seorang klien Ny.K (40 th) datang ke puskemas dengan keluhan mata terasa nyeri, gatal, dan merasa ada benda asing. Hasil pengkajian Ners Ema didapatkan data kelopak mata dan sekitarnya odema, konjugtiva hiperemis dan ada sekret mukopurulen, kornea tampak hiperemis dan S=390 C. T=130/80 mmH, Ny.K memiliki riwayat penyakit menular seksual, klien pernah memiliki bayi yang mengeluarkan kotoran dari matanya 1 hari – 2 minggu setelah bayi lahir. Kelopak mata anaknya membengkak, merah dan menangis bila ditekan. Perawat puskesmas biasa ditugaskan pada kelompok khusus yang beresiko tinggi PMS di masyarakat.

PEMBAHASAN

  1. A. ANATOMI KONJUNGTIVA

Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :

– Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus.

– Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sclera di bawahnya.

– Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.

Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan sangat longgar dengan jaringan dibawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.

Konjungtiva bulbi superior paling sering mengalami infeksi dan menyebar kebawahnya.13

Histologi :

Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat, superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.

Sel-sel epitel superficial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superficial dan di dekat linbus dapat mengandung pigmen.

Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superficial) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.13

Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan wolfring), yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks atas, dan sedikit ada diforniks bawah. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas tarsus atas.

  1. B. KONSEP KONJUNGTIVITIS

Klasifikasi konjungtivitis berdasarkan penyebabnya.

a.Konjungtivitis akut

Merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Disebabkan oleh gonococcus virus, clamidia, alergi,toksik atau moluskum kontagiosum.
Manifestasi yang muncul adalah hiperemi pada kongjungtiva, lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata dipagi hari, pseudoptosis akibat kelopak mata membengkak, mata seperti ada benda asing.

b.Konjungtivitis bakterial akut

Konjungtivitis bakterial akut merupakan bentuk konjungtivitis murni dan biasanya disebabkan oleh staphilococcus, streptococuss pnemonie, gonococcus, haemofiluss influenza, dan pseudomonas

c. Konjungtivitis blenore

Blenore neonaturum merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru lahir. Penyebabnya adalah gonococ, clamidia dan stapilococcus.Konjungtivitis gonore Radang konjungtiva akut yang disertai dengan sekret purulen. Pada neonatus infeksi ini terjadi pada saat berada dijalan lahir. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin pada kontak dengan penderita uretritis atau gonore
Manifestasi klinis yang muncul pada bayi baru lahir adanya sekret kuning kental, pada orang dewasa terdapat perasan sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda – tanda infeksi umum.

d. Konjungtiva difteri

Radang konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri difteri memberikan gambaran khusus berupa terbentuknya membran pada konjungtiva

e. Konjungtivitis angular

Peradangan konjungtiva yang terutama didapatkan didaerah kantus interpalpebra disertai ekskoriasi kulit disekitar daerah peradangan, kongjungtivitis ini disebabkan oleh basil moraxella axenfeld.
f. Konjungtivitis mukopurulen

Kongjungtivitis ini disebabkan oleh staphylococcus, pneumococus, haemophylus aegepty. Gejala yang muncul adalah terdapatnya hiperemia konjungtiva dengan sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata lengket, pasien merasa seperti kelilipan, adanya gambaran pelangi ( halo).

g. Blefarokonjungtivitis

Radang kelopak dan konjungtiva ini disebabkan oleh staphilococcus dengan keluhan utama gatal pada mata disertai terbentuknya krusta pada tepi kelopak

h.Konjungtivitis viral akut

Biasanya disebabkan oleh adenovirus atau suatu infeksi herpes simpleks. Infeksi ini biasanya terjadi bersama – sama dengan infeksi saluran pernafasan atas. Infeksi virus bisa sembuh dengan sendirinya setelah 3 minggu.
– Keratokonjungtivitis epidemik

Radang yang berjalan akut, disebabkan oleh adenovirus tipe 3,7,8 dan 19. konjuntivitis ini bisa timbul sebagai suatu epidemi. Penularan bisa melalui kolam renang selain dari pada wabah. Gejala klinis berupa demam dengan mata seperti kelilipan, mata berair berat

– Demam faringokonjungtiva

Kongjungtivitis demam faringokonjungtiva disebabkan infeksi virus. Kelainan ini akan memberikan gejala demam, faringitis, sekret berair dan sedikit, yang mengenai satu atau kedua mata. Biasanya disebabkan adenovirus tipe 2,4 dan 7 terutama mengenai remaja, yang disebarkan melalui sekret atau kolam renang.

– Konjungtivitis herpetik
Konjungtivitis herpetik biasanya ditemukan pada anak dibawah usia 2 tahun yang disertai ginggivostomatitis, disebabkan oleh virus herpes simpleks.

– Kongjungtivitis new castle
Konjungtivitis new castle merupakan bentuk konjungtivitis yang ditemukan pada peternak unggas, yang disebabkan oileh virus new castle. Gejala awal tibul perasaan adanya benda asing, silau dan berai pada mata, kelopak mata membengkak
i.Konjungtivitis jamur

Infeksi jamur jarang terjadi, sedangkan 50% infeksi jamur yang terjadi tidak memperlihatkan gejala. Jamur yang dapat memberikan infeksi pada konjungtivitis jamur adalah candida albicans dan actinomyces.
j.Konjungtivitis alergik

Konjungtivitis alergik merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap obat atau bahan toksik

k.Konjungtivitis kronis

Trakoma
Trakoma merupakan konjungtivitis folikular kronis yang disebabkan oleh chlamidia trachomatis, pasien akan mengalami gejala gatal pada mata, berair dan fotofobia.

Tanda dan Gejala

Secara umum pasien yang mengalami tanda dan gejala sebagai berikut ;

Mata merah, bengkak, sakit, panas, gatal dan seperti kelilipanBila infeksi bakteri maka akan terdapat rasa lengket, serta mukopurulen.Bila infeksi karena virus maka akan bersifat sangat mudah menular apalagi pada mata sebelahnya.

  1. C. KONSEP KONJUNGTIVIS GONORE

Gonore adalah gonokok yang ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879, dan baru diumumkan tahun 1882, kuman tersebut termasuk dalam group Neisseria. Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8U dan panjang 1,6U, bersifat tahan asam dan Gram negatif, terlihat diluar dan didalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39°C dan tidak tahan zat desinfektan. Gonokok terdiri dari 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai vili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai vili yang bersifat nonvirulen, vili akan melekat pada mucosa epitel dan akan menimbulkan reaksi sedang. Gonore tidak hanya mengenai alat-alat genital tetapi juga ekstra genital. Salah satunya adalah konjungtiva yang akan menyebabkan konjungtivitis, penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang menderita servisitis gonore atau pada orang dewasa, infeksi terjadi karena penularan pada konjungtiva melalui tangan dan alat-alat.

Etiologi

Neisseria gonorrhoeae.

Kuman gonokok ini termasuk kuman diplokokus aerobik yang sangat patogen, virulen, dan invasif.

1.Masa inkubasi 1-5 hari setelah timbul infeksi. Pada orang dewasa, berlangsung selama 6 minggu.

2.Ada tiga stadium perjalanan penyakit: stadium infiltratif,supuratif, dan penyembuhan.

3. Ciri stadium infiltratif:

a.Kelopak dan konjungtiva mata kaku disertai rasa sakit pada perabaan.

b.Kelopak mata membengkak dan kaku sehingga sukar dibuka.

c. Konjungtiva bulbi merah, kemotik (bengkak), dan menebal.

d.Khas pada orang dewasa: selaput konjungtiva bengkak dan menonjol, disertai gambaran hipertrofi papiler yang besar.

e.Umumnya menyerang satu mata (didahului mata kanan) terlebih dahulu dan biasanya dialami pria.

4.Ciri stadium supuratif:

a.Pada bayi, sekretnya kuning kental. Pada orang dewasa,sekretnya tidak kental sekali.

b. Bila sangat dini, sekret dapat serous, yang kemudian dapat menjadi kental dan purulen.

c. Terdapat pseudomembran yng merupakan kondensasi fibrin pada permukaan konjungtiva.

5. Pada stadium penyembuhan, semua gejala sangat berkurang.

Klasifikasi

Di klinik, penyakit ini terlihat dalam bentuk:

1. ophthalmia neonatorum (bayi berusia 1-3 hari)

2. konjungtivitis gonore infantum (usia lebih dari 10 hari)

3. konjungtivitis gonore adultorum

Patofisiologi

Konjungtiva adalah lapisan mukosa yang membentuk lapisan terluar mata. Iritasi apapun pada mata dapat menyebabkan pembuluh darah dikonjungtiva berdilatasi. Iritasi yang terjadi ketika mata terinfeksi menyebabkan mata memproduksi lebih banyak air mata. Sel darah putih dan mukus yang tampak di konjungtiva ini terlihat sebagai discharge yang tebal kuning kehijauan. 6

Perjalanan penyakit pada orang dewasa secara umum, terdiri atas 3 stadium :

1. Stadium Infiltratif.

Berlangsung 3 – 4 hari, dimana palpebra bengkak, hiperemi, tegang, blefarospasme, disertai rasa sakit. Pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva yang lembab, kemotik dan menebal, sekret serous, kadang-kadang berdarah. Kelenjar preauikuler membesar, mungkin disertai demam. Pada orang dewasa selaput konjungtiva lebih bengkak dan lebih menonjol dengan gambaran hipertrofi papilar yang besar. Gambaran ini adalah gambaran spesifik gonore dewasa. Pada umumnya kelainan ini menyerang satu mata terlebih dahulu dan biasanya kelainan ini pada laki-laki didahului pada mata kanannya, 4,6,7

2. Stadium Supurativa/Purulenta.

Berlangsung 2 – 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra masih bengkak, hiperemis, tetapi tidak begitu tegang dan masih terdapat blefarospasme. Sekret yang kental campur darah keluar terus-menerus. Pada bayi biasanya mengenai kedua mata dengan sekret kuning kental, terdapat pseudomembran yang merupakan kondensasi fibrin pada permukaan konjungtiva. Kalau palpebra dibuka, yang khas adalah sekret akan keluar dengan mendadak (memancar muncrat), oleh karenanya harus hati-hati bila membuka palpebra, jangan sampai sekret mengenai mata pemeriksa. 4,6,7

3. Stadium Konvalesen (penyembuhan). hipertrofi papil

Berlangsung 2 – 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra sedikit bengkak, konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltratif. Pada konjungtiva bulbi injeksi konjungtiva masih nyata, tidak kemotik, sekret jauh berkurang. 4,6,7

Pada neonatus infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sehingga pada bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit tersebut. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin sendiri.

Pada neonatus, penyakit ini menimbulkan sekret purulen padat dengan masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari, disertai perdarahan sub konjungtiva dan konjungtiva kemotik. 2,4,5,6,8,10
Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan ditandai dengan konjungtiva dan sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya secret mukopurulent.

Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat kronis yaitu mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air mata sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada konjungtivitis ditemukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan meningkatkan tekanan intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air mata atau kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya aliran air mata sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing

dapat anda lihat bagannya di :

patofisiologi bagian 1 dan patofisiologi bagian 2

Gambaran Klinis

Manifestasi yang muncul adalah hiperemi pada kongjungtiva, lakrimasi (sekresi dan pengeluaran air mata), eksudat dengan sekret yang lebih nyata dipagi hari, pseudoptosis akibat kelopak mata membengkak, mata seperti ada benda asing.

Konjungtivitis gonore

Radang konjungtiva akut yang disertai dengan sekret purulen. Pada neonatus infeksi ini terjadi pada saat berada dijalan lahir. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin pada kontak dengan penderita uretritis atau gonore
Manifestasi klinis yang muncul pada bayi baru lahir adanya sekret kuning kental, pada orang dewasa terdapat perasan sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda – tanda infeksi umum.

Keluhan-keluhan tersebut terjadi karena pembengkakan (edema) konjungtiva (bagian dalam kelopak mata: silahkan lihat gambar), serta pembesaran (hipertrofi) kelenjar di sekitar konjungtiva sehingga berasa seperti ada benda di dalam mata.

Kondisi ini membuat tangan tak kuasa untuk tidak mengucek-ucek, akibatnya makin bengkak, makin nyeri, makin lengkaplah penderitaan

* Konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak.

* Produksi air mata berlebihan (epifora)

* Kelopak mata bagian atas nampak menggelantung (pseudoptosis) seolah akan menutup akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan sel-sel konjungtiva bagian atas.

* Pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi nonspesifik peradangan.

* Pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya.

* Terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein)

* Dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah)

Kasus pada bayi dan anak

Gejala subjektif : (-)

Gejala objektif :

Ditemukan kelainan bilateral dengan sekret kuning kental, sekret dapat bersifat serous tetapi kemudian menjadi kuning kental dan purulen. Kelopak mata membengkak, sukar dibuka (gambar 1) dan terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal. Konjungtiva bulbi merah, kemotik dan tebal.

Kasus pada orang dewasa

Gejala subjektif :

Rasa nyeri pada mata.

Dapat disertai tanda-tanda infeksi umum.

Biasanya terdapat pada satu mata. Lebih sering terdapat pada laki-laki dan biasanya mengenai mata kanan.

Gambaran klinik meskipun mirip dengan oftalmia nenatorum tetapi mempunyai beberapa perbedaan, yaitu sekret purulen yang tidak begitu kental. Selaput konjungtiva terkena lebih berat dan menjadi lebih menonjol, tampak berupa hipertrofi papiler yang besar (gambar 2). Pada orang dewasa infeksi ini dapat berlangsung berminggu-minggu.

Penyulit

Penyulit yang didapat adalah tukak kornea marginal terutama di bagian atas, dimulai dengan infiltrat, kemudian pecah menjadi ulkus. Tukak ini mudah perforasi akibat adanya daya lisis kuman gonokok (enzim proteolitik). Tukak kornea marginal dapat terjadi pada stadium I atau II, dimana terdapat blefarospasme dengan pembentukan sekret yang banyak, sehingga sekret menumpuk dibawah konjungtiva palpebra yang merusak kornea dan hidupnya intraseluler, sehingga dapat menimbulkan keratitis, tanpa didahului kerusakan epitel kornea. Ulkus dapat cepat menimbulkan perforasi, edofthalmitis, panofthalmitis dan dapat berakhir dengan ptisis bulbi.

Pada anak-anak sering terjadi keratitis ataupun tukak kornea sehingga sering terjadi perporasi kornea. Pada orang dewasa tukak yang terjadi sering berbentuk cincin.


  1. a. PENGKAJIAN KLIEN DENGAN KASUS KONJUNGTIVITIS GONORE (KASUS2)

Biodata

Nama : Ny K

Jenis Kelamin : Perempuan

Riwayat Kesehatan

  • Riwayat Kesehatan Sekarang

Keluhan Utama : mata terasa nyeri, gatal, dan terasa ada benda asing.

P : dapat ditanyakan hal atau penyebab apa yang dapat memperparah keluhan yang dirasakan

klien?

Q : seberapa berat keluhan yang pasien rasakan, seperti apa keluhannya. Pada kasus klien

mengeluh mata terasa nyeri, gatal, dan terasa ada benda asing

R : pada daerah mana nyeri atau keluhan dirasakan ?

S : tanyakan pada klien seberapa berat keluhan atau nyeri yang dirasakan, berikan rentang antara 0- 10 ..

T : tanyakan kapan ataukah ada waktu tertentu keluhan yang klien rasakan semakin parah?

  • Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien pernah mengalami penyakit menular seksual, dikaji juga mengenai riwayat penggunaan obat, alergi, operasi mata, dan trauma mata

  • Riwayat Kesehatan keluarga

Klien mempunyai bayi yang mengeluarkan kotoran seperti nanah di kelopak matanya, membengkak, merah dan menangis bila ditekan dan dalam keluarga terdapat penderita penyakit menular ( konjungtivitis )

Psiko-Sosial

Kaji apakah ada gangguan interaksi sosial semenjak klien menrasakan penyakitnya.

Spiritual

Kaji apakah klien mengalami gangguan melaksanakan rutinitas ibadahnya sehubungan dengan penyakit yang klien derita.

Pemeriksaan Fisik

DO : suhu : 390C, TD : 130/80 mmHg, terdapat secret purulen, edema, hiperemis,

DS : keluhan terasa nyeri, gatal, dan terasa ada benda asing

Pemeriksaan fisik ( Inspeksi ) untuk melihat keadaan struktural mata klien ( edema, hiperemis, sekret purulen )

Hasil:

  • Hiperemi konjungtiva yang terlihat nyata pada fornik dan mengurang kea rah limbus
  • Secret mukopurulen dan berlimpah pada infeksi bakteri, yang menyebabkan kelopak mata lengket saat bangun tidur
  • Edema konjungtiva

Pemeriksaan Laboraturium

  1. Pemeriksaan Giemsa/ pengecatan gram

Dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear, sel-sel morfonuklear, juga bakteri atau jamur penyebab konjungtivitis

Pemeriksaan Visus

Catat derajat pendangan perifer klien karena jika terdapat sekret yang menempel pada kornea dapat menimbulkan kemunduran visus.

Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan sediaan langsung sekret dengan pewarnaan gram atau Giemsa untuk mengetahui kuman penyebab dan uji sensitivitas untuk perencanaan pengobatan.

Untuk diagnosis pasti konjungtivitis gonore dilakukan pemeriksaan sekret dengan pewarnaan metilen biru, diambil dari sekret atau kerokan konjungtiva , yang diulaskan pada gelas objek, dikeringkan dan diwarnai dengan metilen biru 1% selama 1 – 2 menit. Setelah dibilas dengan air, dikeringkan dan diperiksa di bawah mikroskop. Pada pemeriksaan dapat dilihat diplokok yang intraseluler sel epitel dan lekosit, disamping diplokok ekstraseluler yang menandakan bahwa proses sudah berjalan menahun. Morfologi dari gonokok sama dengan meningokok, untuk membedakannya dilakukan tes maltose, dimana gonokok memberikan test maltose (-). Sedang meningokok test maltose (+).

Bila pada anak didapatkan gonokok (+), maka kedua orang tua harus diperiksa. Jika pada orang tuanya ditemukan gonokok, maka harus segera diobati. 3,4,7,9

Dibuat dengan sediaan apus sekret konjungtiva dengan pewarnaan biru metilen sehingga akan terlihat diplokok intraseluler (di dalam leukosit).

askep kasus 2 bag 1, askep kasus 2 bag 2, askep kasus 2 bag 3

G. Pengobatan dan terapi

Terapi:

  1. 1. Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau dengan garam fiiologis setiap 15 menit. lalu diberi salep penisilin setiap 15 menit.Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10.000-20.000 unit/ml setiap 1 menit sampai 30 menit. lalu salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit. Disusul pemberian salep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.
  2. 2. Terapi yang dapat dilakukan meliputi pemberian antibiotika sistemik dan tropika misalnya berupa salep khusus untuk konjungtivis bakteri dengan fokus salep untuk bakteri tertentu kemudian diberikan juga bahan antiinflamasi, obat tetes , terapi irigasi mata, pembersihan kelopak mata dengan menggunakan air hangat / garam normal.

Pada umumya konjungtivis karena bakteri dapat di obati dengan sulfonamide atau antibiotic ( gentamycin 0,3%, chloramphenicol 0,5%, polimixin ). Gentamycin dan tobramycin sering disertai dengan reaksi hipersensitivitas local. Penggunaan aminoglikosida seperti gentamycin yang tidak teratur dan adekuat dapat menyebabkan resistensi organisme gram negative.

Farmakologi :

– Pengobatan dimulai bila terlihat pada pewarnaan Gram positif diplokok batang intraseluler dan sangat dicurigai konjungtivitis gonore.

– Pasien dirawat dan diberi pengobatan dengan penicillin, salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB selama 7 hari.

– Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau dengan garam fisiologik setiap ¼ jam, kemudian diberi salep penisillin setiap ¼ jam. Penisillin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisillin (caranya : 10.000 – 20.000 unit/ml) setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit., disusul pemberian salep penisillin setiap 1 jam selama 3 hari.

– Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok.

– Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksan mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negatif.

– Pada pasien yang resisten terhadap penicillin dapat diberikan cefriaksone (Rocephin) atau Azithromycin (Zithromax) dosis tinggi. 4,8

Efek samping pengobatan

– Tetes nitrat Argenti yang diberi pada bayi baru lahir untuk mencegah infeksi gonore akan menyebabkan iritasi ringan, tapi akan sembuh dengan sendirinya satu sampai dua hari tanpa meninggalkan kerusakan menetap.

– Antibiotika topikal dapat menyebabkan reaksi alergi.

– Antibiotika oral dapat menyebabkan gangguan perut, ruam dan reaksi alergi.

H. Perawat sebagai community organizing

Dalam masyarakat berperan memberikan pendidikan mengenai penyakit yang berhubungan dengan kasus diatas. Contohnya pendidikan mengenai penyakit menular seksual, bagaimana caranya agar seseorang tidak mengalami sakit yang sama berulang-ulang karena kebiasaan yang dilakukannya, dengan melakukan pencegahan berupa :

  • Menghindari seks bebas (free sex).
  • Tidak melakukan Monogami.
  • Penggunaan kondom saat vaginal, oral maupun anal seks.

PENCEGAHAN LAIN:

  • Skrining dan terapi pada perempuan hamil dengan penyakit menular seksual.
  • Secara klasik diberikan obat tetes mata AgNO3 1% Segera sesudah lahir (harus diperhatikan bahwa konsentrasi AgNO3 tidak melebihi 1%).
  • Cara lain yang lebih aman adalah pembersihan mata dengan solusio borisi dan pemberian kloramfenikol salep mata.
  • Operasi caesar direkomendasikan bila si ibu mempunyai lesi herpes aktif saat melahirkan.
  • Antibiotik, diberikan intravena, bisa diberikan pada neonatus yang lahir dari ibu dengan gonore yang tidak diterapi.

~ oleh kelompok8fkep pada Oktober 12, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: